CATATAN PEMENTASAN "LARAS II" UKM Kesenian TIANG FKIP UNEJ
Gedung PKM, 10 Juni 2016
Setiap kali ada pementasan drama/teater, senyampang saya punya waktu dan kesempatan, saya selalu berusaha untuk hadir dan menikmati suguhan pementasan tersebut. Malam ini saya berkesempatan menikmati garapan teman-teman UKMK Tiang FKIP Unej di gedung PKM.
Pementasan berdurasi kurang lebih satu jam, mengusung naskah berjudul “LARAS II” menjadi semacam obat dan vitamin bagi proses berkesenian saya. Setelah sore harinya saya menghadiri acara “NGAPUSI (Ngabuburit Puisi)” di Politekhnik Negeri Jember, yang jujur saja tidak sesuai dengan harapan dan imajinasi saya.
Ada beberapa hal yang saya pelajari dari pementasan teman-teman UKMK Tiang kali ini. Sejak pertama kali melihat pementasan mereka sekitar tahun 2004/2005, yang terbiasa menggarap naskah yang cukup berat semisal Opera Sembelit, Kapai-kapai, maupuan naskah-naskah teater yang sudah dianggap standart untuk pementasan teater level mahasiswa maupun festival teater di Indonesia. Kali ini teman-teman UKMK Tiang memilih menggarap naskah dengan tema yang juga cukup berat tetapi dengan bentuk garapan komedi satir yang cukup menarik.
Naskah “LARAS II” menceritakan tentang Suryo yang memiliki burung perkutut yang dinamakan Laras. Suatu hari, Laras ditemukan hilang dari tempatnya biasa digantung dan dijemur. Suryo merasa ada yang sengaja mencuri burungnya, karena alasan-alasan pribadi. Suryo kemudian menuyuruh pembantunya (Rejo) untuk melaporkan hal ini kepada Pak Lurah agar dia bisa mendapatkan bantuan penyelesaian permasalahannya, juga Laras bisa diketemukan kembali. Peristiwa ini kemudian menjadi dasar dari konflik-konflik yang terjadi dan menjadi premis (proposisi) dari alur cerita. Suryo kemudian menuduh Lasmini (mantan istrinya), Asri (mantan pacarnya), dan juga Juminto (saingannya dalam merebut hati Juminten, istrinya yang sekarang) berdasarkan isu dan perkataan orang lain, bukan berdasarkan fakta yang ada. Akhir cerita, ternyata Laras dijual oleh Juminten karena dia merasa Suryo sudah tidak bisa memelihara Laras dengan baik. Suryo akhirnya merasa menyesal telah menuduh orang-orang tersebut. Dan cerita diakhiri dengan mengambang, tidak diceritakan ending dari sikap Suryo kepada Juminten karena telah menjual Laras, burungnya.
Ada beberapa hal yang menjadi catatan saya dalam pementasan ini, yaitu:
1. Tata panggung yang cukup menarik dengan setting yang sederhana tetapi benar-benar mencerminkan sebuah rumah seorang yang cukup kaya di desa. Hal ini menarik karena tentu saja setting panggung ini dibuat berdasarkan realitas yang ada di kehidupan nyata.
2. Properti yang digunakan tidak terlalu berbelit dan sudah umum ada di kehidupan nyata. Hal ini tentu saja memudahkan para aktor dan juga team properti dalam menyediakan properti dan mengeksplor penggunaannya di atas panggung.
3. Tata lampu yang menggunakan konsep stagnan tetapi dengan penataan warna yang tepat, menyebabkan suasana adegan demi adegan menjadi menarik. Sangat jarang ditemui tata lampu yang dibuat stagnan di sebuah pementasan yang digarap oleh teman-teman UKM di kampus. Saya merasa sutradara benar-benar memperhatikan tata lampu, dan memilih bermain aman dengan menata warna lampu dibanding menggunakan lampu secara manual menyesuaikan adegan yang ada di atas panggung.
4. Keaktoran yang cukup matang. Hal ini sangat nampak ketika aktor Juminto melakukan kesalahan mengucapkan dialog di babak akhir, dia langsung bisa merespon kesalahannya dan melakukan improvisasi sehingga penonton tidak begitu menyadari kesalahan pengucapan dialog tersebut, tetapi menyangka bahwa kesalahan tersebut sebagai bagian acting untuk menghidupkan suasana di atas panggung.
Namun begitu, saya juga menemukan beberapa hal yang agak mengganjal dalam pementasan kali ini. Hal-hal detil yang mungkin luput dari perhatian sutradara maupun team produksi lainnya.
1. Vocal aktor. Ada beberapa dialog yang tidak terdengar sampai ke deretan belakang penonton, karena volume vocal aktor terlalu lemah. Hal ini menyebabkan beberapa dialog harus diraba dan diperkirakan sendiri oleh para penonton. Selain itu, kecepatan melafalkan dialog juga di beberapa dialog banyak yang terlalu cepat. Memang di kehidupan nyata, sangat sering kita mengucapkan sesuatu dengan sangat cepat karena emosi yang sedang meluap-luap, tetapi hal ini harusnya bisa diperhatikan oleh Sutradara maupun aktor bahwa keadaan di atas pentas tidak sama dengan kondisi di kehidupan nyata.
Vocal seorang aktor harus memenuhi dua hal, yaitu: 1). Suara terdengar jelas sampai pada penonton paling belakang; 2). Makna huruf, kata, dan kalimat ketika diucapkan oleh aktor dengan pendengar tidak berubah dikarenakan pelafalan dan kekuatan volume suara aktor tidak terpecah ketika mengucapkan dialog.
Vocal seorang aktor seharusnya seperti kita melemparkan batu, sejak dilepaskan dari tangan, batu tersebut sampai dengan utuh di tempat tujuannya. Bukan seperti orang melempar pasir atau tanah yang dikepal, sejak dilepas dari tangan mungkin dia masih utuh, tetapi di tengah perjalanannya menjadi tercerai berai.
2. Keberfungsian setting panggung, di mana ada hiasan taman dengan air mancur. Jika memang taman dan air mancur adalah sesuatu yang memang benar-benar ‘urgen’, maka taman dan air mancur bisa dibuat dan diletakkan sesuai kebutuhan panggung dan adegan dalam naskah. Tetapi jika memang tidak begitu penting, alangkaha baiknya jika properti tersebut disesuaikan porsi dan kegunaannya di atas panggung.
3. Pada beberapa dialog, suara air mancur malah terdengar lebih jelas dibandingkan dengan vocal aktor. Hal tentu saja mengganggu kenikmatan penonton dalam menikmati sajian pementasan.
4. Komposisi pemain di atas panggung. Hal ini terkadang terjadi tanpa disadari oleh aktor, maupun sutradara karena suasana di atas panggung sedang mengalami puncak emosi (klimaks) sehingga para aktor ‘kurang’ sadar dengan panggung. Maksudnya ‘sadar panggung’ adalah para aktor menyadari bahwa panggung itu cukup lebar, dan semua aktor tidak boleh berada di satu titik saja di atas panggung, tetapi harus memberikan isi agar mampu memberikan ruang yang cukup bagi terjadinya adegan demi adegan.
Beberapa hal di atas adalah hal-hal yang memang harus diperhatikan oleh seluruh komponen pementasan yang terlibat dalam produksi pementasan. Selain sebagai sebuah catatan, hal-hal tersebut di atas sekaligus bisa dijadikan bahan evaluasi dan pembelajaran untuk produksi selanjutnya.
Secara utuh, pementasan Laras II sangat menarik untuk dinikmati sebagai sebuah pertunjukan, sebagai sebuah tontonan di tengah begitu maraknya pementasan yang mengedepankan simbol (surealis dan absurd) di lingkungan teater kampus.
Salam seni dan budaya
Jember, 10 Juni 2016
23.45 wib
Ini adalah tugu peringatan peristiwa bersejarah di Bondowoso. Tugu peringatan "Agresi Militer Belanda II" di Kabupaten Bondowoso. Tugu yang berada di lereng Gunung Purnama, Desa Purnama, Kecamatan Tegalampel, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.
Tugu yang menandai kekejaman penjajah Belanda yang membonceng NICA pada tahun 1947 dan tahun 1949. Tugu yang memberikan bukti bahwa rakyat Bondowoso tidak rela Belanda menjajah Indonesia. Tugu yang membuktikan bahwa TNI mampu bekerjasama dengan rakyat, bahu membahu melakukan perlawanan terhadap pihak asing yang ingin menjajah negeri tercinta. Tugu yang membuktikan bahwa persatuan dan kesatuan itu dibangun dengan pengorbanan darah dan ribuan nyawa. Tugu yang membuktikan bahwa NKRI adalah harga mati yang tidak dapat ditawar-tawar lagi.
Tugu ini menceritakan tentang resimen gerilya yang dipimpin oleh Pak Djegal (nama julukan karena keberaniannya) dengan dibantu oleh rakyat dalam mencegat usaha Belanda untuk memasuki wilayah Bondowoso melalui arah Utara--Panarukan. Tugu ini terdiri dari empat sisi yang di bagian dasar (pondasi) berisi nama-nama anggota pasukan yang tergabung dalam resimen ini.
Sayangnya kondisi tugu peringatan ini sangat mengenaskan. Cat, pagar, dan bagian prasasti peresmian dan nama-nama anggota pasukan sudah sangat memprihatinkan. Catnya terkelupas di sana sini, tanpa adanya pembaruan. Prasasti peresmian dan nama anggota pasukan sudah retak-retak. Pagar tugu ini yang terbuat dari besi sudah karat dan sudah rusak cukup parah. Di tambah lagi, masyarakat sekitar menjadikan sekitar tugu sebagai tempat menambatkan sapi dan membuang kotoran sapi, sehingga area sekitar tugu sangat kotor.
Sungguh sayang, sebuah tugu peringatan yang seharusnya menjadi warisan kepada generasi berikutnya menjadi tidak menarik untuk di datangi, dan kemungkinan kalau dibiarkan akan roboh tergerus perubahan musim yang semakin tidak menentu.
Salam
Di mana-mana yang namanya pohon kelapa sudah pasti tidak bercabang karena pohon kelapa masuk pada keluarga tumbuhan monokotil (cocos nucifera L.). Tetapi ada kalanya sesuatu diberikan anugerah yang berbeda dari umumnya, termasuk pohon kelapa.
Pohon kelapa di Desa Pejaten, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur ini batangnya memiliki cabang bukan hanya satu, tetapi dua. Batang pohon kelapa ini bercabang sehingga menjadi sesuatu yang unik dan aneh tetapi nyata.
Pohon kelapa ini tumbuh di halaman masjid yang usianya termasuk tua di wilayah Desa Pejaten. Ada banyak mitos dan cerita aneh yang timbul berkaitan dengan pohon kelapa bercabang ini, bahkan sampai sekarang masih banyak orang--termasuk masyarakat sekitar--yang mempercayai bahwa buah kelapa dari pohon kelapa bercabang ini memiliki khasiat yang dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
Sungguh Allah Ta'ala menciptakan segala sesuatu dengan begitu sempurnanya dan dengan tujuan yang harus kita renungkan bersama.
Salam
JUNGKIR BALIK
Rahman El Hakim
ِبسْمِ الله الرَّ حْمن ِالرَّ حِيْمِ
وَلاَ تَمَْشِ فِى اْلاَرْضِِِ مَرَحًا اِنَّكَ لَنْ تَخِْرقَ اْلاَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ اْلجِبَالَ طُوْلاً
“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak sampai setinggi gunung”
(Q.S. Al - Israa : 37)
Aktor I :
Angin kembara …
Adakah serunai musim ‘kan terus berdendang?
Adakah kelepak sayap-sayap pipit masih terus berayun
Di batang-batang padi?
Terdiam …
Renungku terpasung mimpi-mimpi ilalang
Aktor II :
Ha ……. Ha …. Ha ….. siapakah kau yang begitu pedih menangisi angan-angan! Ha … ha … ha …
Cukup air mata
memandikan kesunyian ini
bukan mendung yang bercerita tentang hujan
juga iramanya yang bertetes luka
Aktor I :
Apakah manusia tidak ingin mengambil hikmah dari burung-burung?
Apakah manusia tidak mau berguru pada makhluq lainnya?
Pada siapakah seharusnya kita berkaca?
Bukankah tiap detik tiap menit dosa-dosa terus bertambah?
Aktor III :
Aku terbang di antara gerimis
Melintasi jenuh bosanku
Butir-butir air menyerpih dalam pangkuan acuhku
Dan bayangmu pucat di batas khayalku
Kenapakah hati harus di iris perih
Duhai …… Indonesiaku ………..
Sajakku berkabung di tengah udara
Aktor II
Ha ...... ha ……... ha …….
Saat kata kehilangan fitrahnya
Kala kalimat menghablur dalam maya
Kemana huruf harus bersandar?
Kemana bait-bait sajak doa akan dikiblatkan?
Ha … ha … ha …
Aktor III :
Sepi bertabur air mata
Sunyi di ikat duka nestapa
Lirih terdengar luka-luka mayapada
Rintihan menghiba para Pengelana ………
Di puncak Mahameru terukir do’a-do’a
Di tengah hening rimba Arjuna terpahat dzikir rahasia
Di damai sabana Argopuro berkumandang wirid Semesta
Aktor I :
Hidup …….
Sebenarnya apakah sejatinya ?????
Bagaimanakah bertemu HIDUP ???????
Lapar inikah?
Haus inikah ?
Dengan secuil harap luruh dalam tetes-tetes air mata …….
Aktor II :
Ha … ha …. ha … bukankah manusia di berikan hak sepenuhnya memanfaatkan bumi, alam semesta seisinya? Apakah kau iri padaku yang punya kekuatan menentang badai, menggenggam belantara, meremuk redamkan laut dan langit? Ha ……… ha …….. ha ………
Aktor I :
Sakitkah bila tawa tak lagi punya suara?
Perihkah bila tangis telaga tak lagi punya air mata?
Pedihkah saat kata terikat ruksa?
Mengapa jendela itu di paksa berwarna?
Sedang udara terdiam dalam puja!
Mengapa helai-helai estetika di peluk rengsa?
Sedang Jingga lafadzkan semerbak Makna!
Aktor II :
Phuah ………. !!!!!
Tidak kau dengarkah jerit tangis mereka! Tidak kau dengarkah tangis bisu korban-korban itu! Bukan kata-kata ! Bukan kalimat yang dibutuhkan dada-dada tipis papan kerempeng itu! Bukan kepasrahan! Bukan kepengecutan saling menyalahkan! Dengar … dengar …. Dengarkanlah dengan tegak!!!!
Aktor I :
Bukankah kau yang telah jungkir balikkan hijau rimba belantara itu? Bukankah kau yang telah porak-porandakan hamparan sabana zamrud khatulistiwa … Mengapa sembunyi di balik bencana?!!! Mengapa sembunyi di balik mayat-mayat yang membusuk itu? Kenapa ….. ? Kenapa …… ? Kenapa ……… ?
Aktor III :
Duduk di tempat yang datar bersama seluruh Semesta
Sebenarnya siapakah makhluq yang diberi nama Manusia?
Seonggok daging dan tulangkah?
Tumpukan sel dan darahkah?
Ataukah hanya timbunan sampah belaka?
Air mataku mengerut dalam badai peradaban
Air mataku memuai di tengah rimba kebudayaan …
Aktor II :
Argh …….. aaarrrrgggghhhhh ………. Dalam tiap batang kayu yang ku tebang telah pula ku bagi nimati bersama-sama! Setiap hektar rimba yang musnah telah pula kusedekahkan pada wajah-wajah berdasi itu kenikmatan duniawi!
Haruskah aku yang dipersalahkan saat banjir banding datang? Haruskah aku yang dipersalahkan saat longsor menerjang? Lalu dimanakah keadilan dan kebijaksaan bertahta? Bangsat ….. bangsatlah ……… kalian semua ………..
Epilog :
“AMENANGI JAMAN EDAN
SWUHAYA ING PAMBUDI
MELU EDAN NORA TAHAN
YEN TAN MELU ANGLAKONI
BOYA KEDUMAN MELIK
KALIREN WEKASANIPUN
DILALAH KERSA ALLAH
BEGJA-BEGJA WONG KANG LALI
LUWIH BEGJA WONG KANG ELING LAN WAN WASPODO”
(Syair R. M. Ng. Ronggo Warsito; 1802 – 1873 M; “SERAT KALATIDHA”)
Bondowoso, 9 Oktober 2009
10. 24 WIB
renungan panjang jungkir baliknya jiwaku
SESEORANG YANG KUPANGGIL
part XII
kemarin pagi aku menunggumu di simpang jalan ini
berharap engkau mampir
dan kita pun saling bertukar mimpi
rerumputan yang menggelitik di sela kaki
makin sesakkan gelisahku
ah, ternyata kau menyapaku
lirih sedikit muram
hujan
mari menari
kau permainkan angin
aku mempermainkan dingin
mengeja keinginan sekuntum kerinduan
ah, jangan terburu membadai sebentar berlari lalu
belum luruh lumpur kalbuku
mari! marilah saling mencuci kebencian
hujan
Bondowoso, 26 Mei 2016
02.12 wib
ah, ternyata kau menyapaku
lirih sedikit muram
hujan
mari menari
kau permainkan angin
aku mempermainkan dingin
mengeja keinginan sekuntum kerinduan
ah, jangan terburu membadai sebentar berlari lalu
belum luruh lumpur kalbuku
mari! marilah saling mencuci kebencian
hujan
Bondowoso, 26 Mei 2016
02.12 wib
SESEORANG YANG KUPANGGIL
part XIII
menepilah sebentar duhai senja
masih kusimpan di bilik sebelah
sebakul sepi berlauk sunyi
yang marilah kita bagi
nikmati berdua
jangan! jangan relakan gelayut kelabu
awan yang muram mengganggu
hingga larutkan kesempatan
jadikannya hujan
kepedihan
ah, bawalah juga sedikit dingin di ujung gang itu
jadikan ia sekelumit warna dalam percakapan kita
tentang waktu, jarak, dan muara
rindu
O...
Jember, 10 Juni 2016
04.18 wib
SELAMAT TAHUN BARU 2014
Sungguh patut disayangkan bahwa kita ini semenjak kecil biasanya hanya memperoleh petunjuk-petunjuk saja, bagaimana untuk dapat menjadi seorang yang baik, yang benar, yang sabar dan sebagainya. Seolah-olah kebaikan itu dapat dipelajari! Seolah-olah kebenaran itu mempunyai garis tertentu! Seolah-olah kesabaran itu dapat dibuat! Biasanya, kalau kita mendendam, kalau kita membenci, kalau kita marah, kita dinasehati untuk bersabar. Kita dinasehati untuk mengendalikan diri, mengendalikan kemarahan itu, menekannya dengan kesabaran, dengan mengingat bahwa kemarahan itu tidak baik, kesabaran itu baik dan sebagainya.
Kita diajar untuk menjauhi kemarahan, kebencian dan lain-lain itu seperti menjauhi penyakit, dan kita dipaksa untuk berpaling kepada kesabaran, cinta kasih antara sesama, kebaikan dan sebagainya. Semua ini membuat kita seperti sekarang ini, penuh dengan teori-teori tentang kebajikan, kebaikan, teori-teori kosong yang sama sekali tidak kita hayati dalam kehidupan, karena penghayatan dalam kehidupan melalui teori-teori ini hanya merupakan peniruan belaka, dan setiap bentuk peniruan tentu mendatangkan kepalsuan dalam tindakan itu karena di balik itu sudah pasti mengandung pamrih.
Sejak kecil kita diajarkan untuk menjadi orang baik sehingga kita selalu ingin disebut baik, kita mempunyai anggapan baik itu searah dengan senang, atau baik itu mendatangkan senang di hati. Maka“perbuatan baik” yang kita lakukan itu, jika kita mau membuka mata mengenal diri sendiri, bukan lain hanyalah merupakan suatu daya upaya atau jembatan bagi kita untuk memperoleh hasil yang menyenangkan itu tadi saja. Hasil yang dianggap akan mendatangkan kesenangan dari perbuatan baik, dan hasil yang menyenangkan itu bisa saja berupa kesenangan bagi lahir maupun batin.
Mungkin bersembunyi di bawah sadar, namun karena pendidikan budi pekerti yang diberikan kepada kita semenjak kecil, maka kita selalu berbuat baik dengan harapan agar memperoleh buah dari perbuatan itu yang tentu saja akan menguntungkan atau menyenangkan kita lahir batin.
Bisa saja kita menyangkal bahwa hal ini tidak benar, akan tetapi setiap perbuatan yang kita anggap sebagai perbuatan kebaikan, yang kita lakukan dengan unsur kesengajaan untuk berbuat baik, sudah pasti mengandung pamrih, biar pamrih itu bersembunyi di bawah sadar sekalipun! Maka, yang penting adalah mengenal apakah perbuatan tidak baik itu!
Kita tahu dan mengenal tindakan-tindakan palsu dan tidak baik itu, kita mengenal dan sudah mengalami betapa nafsu-nafsu seperti marah, benci, dendam, iri, serakah itu mendatangkan hal-hal yang amat buruk. Untuk dapat terbebas daripada dendam, bukanlah hanya sekedar belajar sabar! Memang, dengan kesabaran atau mengendalikan diri, kemarahan dapat saja berhenti, nampaknya lenyap dan padam, akan tetapi sesungguhnya, api kemarahan itu masih belum padam, hanya tertutup oleh kesabaran yang dipaksakan menurut ajaran-ajaran itu tadi. Seperti api dalam sekam. Sekali waktu api itu akan berkobar lagi, mungkin lebih hebat, untuk dikendalikan dan ditutup lagi oleh kesabaran, dan lain kali berkobar lagi,ditutup lagi, maka kita pun terseret ke dalam lingkaran setan seperti keadaan hidup kita sekarang ini!
Mengapa kita harus lari dari kenyataan kalau sekali waktu amarah atau benci datang? Mengapa kita harus menyembunyikan diri ke balik pelajaran kesabaran untuk melarikan diri dari kemarahan? Mengapa kita tidak berani menghadapi kenyataan itu bahwa kita marah? Mari kita mencoba untuk menghadapinya. Setiapkali kemarahan timbul, setiap kali kebencian, iri hati, dan sebagainya datang ke dalam batin kita. Kita hadapi semua itu, kita amati, kita pandang, kita pelajari tanpa melarikan diri, tanpa ingin sabar, ingin baik dan sebagainya lagi! Dengan pengamatan ini, dengan kewaspadaan ini, dengan perhatian ini, maka kita akan awas, dan sadar, kita akan melihat bahwa kemarahan dan kita tidaklah berbeda, maka tidaklah mungkin melarikan diri dari kemarahan yang sesungguhnya adalah diri kita sendiri, pikiran kita sendiri, si aku itu sendiri. Kita hadapi saja, amati saja, pandang saja, dan akan terjadilah sesuatu yang luar biasa,yang tak dapat diteorikan, hanya dapat dihayati, dilakukan pada saat semua itu timbul!
"Man arofa nafsahu faqod arofa robbahu"
Barang siapa mengenal dirinya, maka dia akan mampu mengenal Tuhan-Nya.
Semoga
Bondowoso, 29 Januari 2014
19.00 wib
*merenung sendiri tentang diri sendiri dan segala apa yang telah dilakukan diri






